Home hukum PWI LS Boyolali Menolak Kehadiran Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

PWI LS Boyolali Menolak Kehadiran Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

143
0
SHARE
PWI LS  Boyolali Menolak Kehadiran Habib  Syekh bin Abdul Qodir Assegaf


.
Penulis : Hengky Sendyanto 
Tim Divisi Media dan Informasi PP PWI-LS 
Sabtu, 25 April 2026

Boyolali - Gelombang penolakan yang ditandai dengan bertebarnya spanduk di Kabupaten Boyolali bukanlah luapan emosi tanpa dasar. Ia adalah pernyataan sikap—tegas, sadar, dan berangkat dari kegelisahan yang nyata. 

Organisasi Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) dengan jelas menegaskan: tidak pernah ada penolakan terhadap shalawatan, tidak pernah ada penolakan terhadap pengajian. Yang ditolak adalah distorsi makna, pemelintiran identitas, dan narasi yang berpotensi merusak marwah Nahdlatul Ulama.

Persoalan ini mencuat ketika lirik shalawat yang pernah dilantunkan oleh Kabib Syech bin Abdul Qodir Assegaf yang kontroversial dinilai mengandung penyebutan yang tidak tepat, bahkan cenderung menyesatkan. Mengangkat nama Kabib R!z!3eq Sh!h46 yang selalu kontroversial sebagai “gurune NU” dan “idolane NU” bukan sekadar persoalan lirik—ini menyangkut legitimasi sejarah, garis keilmuan, dan identitas organisasi yang telah dibangun puluhan tahun oleh para ulama.

Bagi warga Nahdliyyin, ini bukan hal sepele. NU bukan organisasi yang lahir dari klaim sepihak, bukan pula ruang yang bisa diisi dengan narasi yang dipaksakan. Ada sanad keilmuan, ada tradisi, ada perjuangan panjang yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar syair yang dimodifikasi tanpa tanggung jawab. Terlebih ketika hal tersebut bersinggungan dengan tokoh-tokoh besar yang selama ini menjadi panutan, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang justru pernah menjadi sasaran kritik keras dari pihak yang kini diangkat dalam lirik tersebut.

Maka, sikap PWI-LS Kabupaten Boyolali Jawa Tengah bukanlah bentuk kebencian, melainkan bentuk penjagaan. Ini adalah garis tegas bahwa kecintaan terhadap NU tidak bisa ditukar dengan narasi yang membingungkan umat. Ini adalah bentuk keberanian untuk mengatakan: cukup—jangan ada lagi upaya mengaburkan identitas kami.

PWI-LS juga menegaskan bahwa setiap kelompok memiliki ruangnya masing-masing. Jika ada entitas seperti R4b!th@h Al4w!y@h, maka silakan bergerak dalam koridornya sendiri tanpa harus mengklaim atau menempelkan diri pada NU dengan cara yang tidak tepat. Kejelasan identitas adalah fondasi dari keutuhan umat, bukan sebaliknya.

Dalam konteks ini, penolakan terhadap kehadiran figur tertentu bukanlah tindakan anti-ulama, melainkan bentuk seleksi moral dan intelektual. Umat berhak menentukan siapa yang layak menjadi panutan di ruang publik mereka, terutama ketika menyangkut ajaran, simbol, dan identitas yang mereka yakini.

Lebih jauh, publik juga perlu memahami bahwa sikap tegas seperti ini justru lahir dari kecintaan yang mendalam. Cinta terhadap NU, cinta terhadap kiai, cinta terhadap sejarah, dan cinta terhadap kebenaran. Dan cinta, jika benar adanya, tidak akan diam ketika melihat penyimpangan.

Kabupaten Boyolali hari ini sedang memberikan pelajaran penting: bahwa menjaga marwah lebih utama daripada sekadar menjaga suasana. Bahwa persatuan tidak boleh dibangun di atas kebingungan. Dan bahwa umat yang sadar tidak akan tinggal diam ketika identitasnya dipermainkan.

Ini bukan soal menolak shalawatan. Ini soal menolak pemelintiran. Dan dalam hal ini, sikap PWI-LS adalah pesan tegas: kebenaran harus dijaga, meski harus berhadapan dengan arus yang tidak sejalan. (Newsroom Nasional)